Dengan Menyebut Nama Allah yang Menciptakan manusia sebagai sebaik-baiknya makhluk..
Ada sebuah kisah yang sering saya dengar tentang pentingnya bersabar. Kisah tentang percakapan ibu dan anak kerang mutiara. Si anak telah mendapatkan 'berkah', yaitu dia sedang memproduksi mutiara. Akan tetapi, sakitnya bukan main saat calon mutiara itu sedang berkembang. Ibu kerang mutiara tetap menyuruh anaknya untuk tetap bersabar dan 'menikmati' proses tersebut. Si anak tetap saja merasakan sakit sampai akhirnya dia mengetahui hasilnya, sebuah mutiara yang sangat indah. Mutiara yang terindah dan belum pernah lihat dia sebelumnya. Itulah sabar.
Sabar menurut bahasa artinya adalah menahan. Sedangkan menurut para ulama menahan diri ada tiga :
- Sabar dalam mentaati Allah.
- Sabar dari hal-hal yang diharamkan
- Sabar terhadap taqdir Allah yang menyakitkan
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian.” (Muhammad:31)
Sabar dalam mentaati Allah
Hendaknya manusia bersabar terhadap ketaatan terhadap Allah, karena ketaatan adalah hal yang berat bagi kita seorang manusia yang dikelilingi hawa nafsu. Namun itulah ketaatan, berat dan kita merasa kelelahan dan keletihan. Setan memang sudah berjanji akan menggoda kita dengan kenikmatan berbuat maksiat, dan menciptakan kesulitan saat kita berbuat amal. Keletihan dan kesulitan adalah ujian ketaatan dari seorang manusia. Dan manusia memang butuh kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya.
Hendaknya manusia bersabar terhadap ketaatan terhadap Allah, karena ketaatan adalah hal yang berat bagi kita seorang manusia yang dikelilingi hawa nafsu. Namun itulah ketaatan, berat dan kita merasa kelelahan dan keletihan. Setan memang sudah berjanji akan menggoda kita dengan kenikmatan berbuat maksiat, dan menciptakan kesulitan saat kita berbuat amal. Keletihan dan kesulitan adalah ujian ketaatan dari seorang manusia. Dan manusia memang butuh kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya.
Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.(QS 3:200)
Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Sabar dari hal-hal yang diharamkan
Sabar dari apa yang diharamkan oleh Allah adalah perbuatan seorang menahhan jiwa dari apa hal yang Allah haramkan kepadanya, karena jiwa ini cenderung menuju kepada perbuatan yang tidak baik dan akan menyeru pada perbuatan yang tidak baik tersebut ditambah dengan setan yang selalu menggoda untuk 'menikmatinya'. Dan butuh kesabaran dan pengendalian hawa nafsu yang amat sangat untuk mengekang perbuatan-perbuatan itu. Semua orang bahkan Nabi pun pernah merasakan godaan setan untuk berbuat hal-hal yang diharamkan Allah, tapi karena kesabaran yang sangat besar mereka pun bisa melewatinya.
Sabar terhadap taqdir Allah yang menyakitkan
Ingatkah kita kisah Nabi Ayyub as? Nabi yang telah mendapatkan sebuah ujian yang belum tentu manusia di dunia manapun bisa melewatinya. seorang kaya, anak2nya soleh tubuh yang sehat serta kesolehannya pun tidak dapat dipungkiri. Iblis pun meminta izin kepada Allah untuk menggoda dan mencoba kesabaran Nabi Ayyub as. Akhirnya Allah pun mengizinkan Iblis untuk menggoda Nabi Ayyub as. Iblis pun menggoda dari segala cara untuk melumpuhkan keimanan Nabi Ayyub as. Anak, Harta hingga kesehatan pun diuji kepada Nabi Ayyub as. Tapi Nabi Ayyub tetap sabar dan keimanannya pun makan bertambah. Nabi Ayyub hanya memakai dua hal saat itu, syukur dan sabar. Taqdir yang bersifat menyenangkan; maka butuh rasa syukur, sedangkan syukur itu sendiri termasuk dari ketaatan, sehingga sabar baginya termasuk dari jenis yang pertama (yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah). Adapun taqdir yang bersifat menyakitkan; yaitu yang tidak menyenangkan manusia, seperti seseorang yang diuji pada badannya dengan adanya rasa sakit atau yang lainnya, diuji pada hartanya –yaitu kehilangan harta-, diuji pada keluarganya dengan kehilangan salah seorang keluarganya ataupun yang lainnya dan diuji di masyarakatnya dengan difitnah, direndahkan ataupun yang sejenisnya.
Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan.
Allah berfirman: فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ
“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” (Al-Insaan:24)
{Perum, 31 Maret 2011}
Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Sabar dari hal-hal yang diharamkan
Sabar dari apa yang diharamkan oleh Allah adalah perbuatan seorang menahhan jiwa dari apa hal yang Allah haramkan kepadanya, karena jiwa ini cenderung menuju kepada perbuatan yang tidak baik dan akan menyeru pada perbuatan yang tidak baik tersebut ditambah dengan setan yang selalu menggoda untuk 'menikmatinya'. Dan butuh kesabaran dan pengendalian hawa nafsu yang amat sangat untuk mengekang perbuatan-perbuatan itu. Semua orang bahkan Nabi pun pernah merasakan godaan setan untuk berbuat hal-hal yang diharamkan Allah, tapi karena kesabaran yang sangat besar mereka pun bisa melewatinya.
Sabar terhadap taqdir Allah yang menyakitkan
Ingatkah kita kisah Nabi Ayyub as? Nabi yang telah mendapatkan sebuah ujian yang belum tentu manusia di dunia manapun bisa melewatinya. seorang kaya, anak2nya soleh tubuh yang sehat serta kesolehannya pun tidak dapat dipungkiri. Iblis pun meminta izin kepada Allah untuk menggoda dan mencoba kesabaran Nabi Ayyub as. Akhirnya Allah pun mengizinkan Iblis untuk menggoda Nabi Ayyub as. Iblis pun menggoda dari segala cara untuk melumpuhkan keimanan Nabi Ayyub as. Anak, Harta hingga kesehatan pun diuji kepada Nabi Ayyub as. Tapi Nabi Ayyub tetap sabar dan keimanannya pun makan bertambah. Nabi Ayyub hanya memakai dua hal saat itu, syukur dan sabar. Taqdir yang bersifat menyenangkan; maka butuh rasa syukur, sedangkan syukur itu sendiri termasuk dari ketaatan, sehingga sabar baginya termasuk dari jenis yang pertama (yaitu sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah). Adapun taqdir yang bersifat menyakitkan; yaitu yang tidak menyenangkan manusia, seperti seseorang yang diuji pada badannya dengan adanya rasa sakit atau yang lainnya, diuji pada hartanya –yaitu kehilangan harta-, diuji pada keluarganya dengan kehilangan salah seorang keluarganya ataupun yang lainnya dan diuji di masyarakatnya dengan difitnah, direndahkan ataupun yang sejenisnya.
Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan.
Allah berfirman: فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ
“Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu.” (Al-Insaan:24)
{Perum, 31 Maret 2011}







0 buah pikiran:
Posting Komentar