Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Namun ternyata kuantitas tidak diimbangi dengan kualitas dari tiap muslim. Banyak di Indonesia ini menjadikan Islam hanya status. Kehidupan sehari-hari jauh dari nilai-nilai Islam. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, riba dan perilaku buruk lainnya menjadi hal yang 'wajar' saat ini di Indonesia. Dengan kenyataan seperti itu tidak perlu ditanyakan kembali apakah pembinaan perlu dilakukan atau tidak.
Pembinaan Moral dan Akhlak sejatinya tidak ada batasnya mengingat kondisi iman manusia itu dinamis, kadang naik dan kadang turun. Akan Tetapi, pembinaan sulit dilakukan bukan karena tidak adanya peserta, tapi karena tidak ada yang membina. Kalaupun ada, kualitas dari yang membina sangat minim.
Mentoring di ROHIS (Rohani Islam Sekolah), atau dalam bahasa Arab biasa kita sebut halaqah atau liqo', adalah sesuatu sistem yang sangat baik menurut saya. Halaqah merupakan salah satu cara berdakwah yang paling efektif yang pernah dilakukan ulama, bahkan Rasulullah.
Rasulullah pernah bersabda : "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim". Membina hanya bisa berjalan jika ada pembina/mentor/murobbi dan adanya peserta/mentee/mutarabbi. Menurut kaidah fiqih, sesuatu yang diperlukan untuk melaksanakan kewajiban, maka hukumnya menjadi wajib. Logikanya, halaqah menjadi wajib karena merupakan sarana efektif untuk menumbuhkan kebaikan pada tiap diri peserta halaqah. Sementara halaqah tidak dapat berjalan tanpa adanya pembina (murabbi). Dengan demikian, menjadi murabbi hukumnya juga menjadi wajib.
Rasulullah memulai membina tsabiqul awwallun, yaitu generasi pertama yang memeluk Islam dengan sistem halaqah. Namun setelah turun ayat menyiarkan Islam ke khalayak luas, maka Rasulullah sering berdakwah dengan cara taklim, yaitu berbicara dengan orang banyak,biasanya di pasar, untuk mengajak orang-orang memeluk Agama Islam, meskipun halaqah selalu dilakukan oleh Rasulullah. Halaqah menjadi saran utama bagaimana Rasulullah 'mengabsen' ibadah para Sahabat. Dan para sahabat yang menjadi mutarabbi Rasulullah, melakukan hal yang sama seperti Rasulullah untuk membina.
Dengan membina, setidaknya kita dapat berkontribusi membentuk pribadi-pribadi muslim yang unggul. Membina, selain untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan para mutarabbi, juga memiliki manfaat serupa bagi murabbi itu sendiri. Untuk menyampaikan materi, tentunya murabbi harus mempelajarinya terlebih dahulu. para murabbi juga dituntut untuk memahami karakteristik peserta dengan latar belakang yang beragam. Menjadi murabbi menjadikan pembelajaran yang amat baik untuk diri kita semua, dari komunikasi, pergaulan, sampai dengan psikologi secara tidak sadar telah kita praktekkan dalam halaqah tersebut.
Allah Berfirman : "...Hendaklah kamu menjadri orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya."(QS Ali Imran : 79).
Maukah kau menanam?







0 buah pikiran:
Posting Komentar