Tulisan didasarkan dengan status yg dibuat oleh oang yang mengaku sebagai aktivis dakwah.
Dia menulis kira-kira seperti ini ”Kata seorang ustad (yang tidak mau disebut namanya), kalo ada 10 orang kader KAMMI berkumpul maka 10 orang itu adalah muharrik (penggerak) semua, namun kalo 10 orang kader LDK berkumpul, maka 1 dari 10 orang itulah yang muharrik. ”Mungkin bagi teman-teman LDK (Lembaga Dakwah Kampus) akan ’kebakaran jenggot’ jika melihat ini dengan pemahaman yang sangat dangkal. Tapi bagi saya, orang-orang yang terlibat LDK adalah orang-orang hebat meskipun cuma ada satu anak LDK yang berada di suatu lingkungan. Dia berhasil mengajak sembilan orang untuk bergabung dengan LDK dan akhirnya bisa berkontribusi bersama satu orang yang mengajaknya. Apa kuncinya, yaitu Dakwah Fardiyah!
Mengapa dakwah fardiyah? Karena itu adalah kunci dari sebuah dakwah. Dakwah tidak akan berjalan jika tidak ada ajakan. Dakwah akan sepi jika kita tidak mengajak orang lain dalam kebaikan. Pernakah kita berfikir jika Rasulullah menyimpan sendiri wahyu Allah,akankah Islam hadir di hati-hati kita?
Seorang aktifis dakwah harus bisa menjadikan dirinya sebuah teladan di lingkungan ia berada. Memahami bahwa dia hanya makhluk yang ditugaskan untuk beribadah kepada Tuhannya, Seperti Firman Allah ”Dan tidaklah Ku kuciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepadaKu”[1]. bagi aktifis dakwah harus hidup dengan cara yang baik (sirah hasanah). Ia bisa menjadi obat mujarab untuk mengobati penyakit jiwa. Dengan sirah hasanah, seorang da’i dapat menerapi penyakit jiwa, menyembuhkan sakit hati, membersihkan kotoran dada, menjadi penenang jiwa yang tidak mudah tersulut amarah dan tidak terpancing oleh kepandiran orang-orang bodoh.[2] Keteladanan menjadi sebuah magnet yang sangat kuat, yang menjadi senjata ampuh di tangan aktifis dakwah. Bukannya menjadi aktifis dakwah yang caper (cari perhatian), yang selalu berpendapat dengan ucapan atau kata-kata kotroversial di media sosial yang menyangkut kegiatan dakwah,tanpa ada kontribusi. Itu bukan seorang aktifis dakwah, tapi hanya orang yang mengaku sebagai aktifis dakwah.
Akhi wa ukhti aktifis dakwah atau yang hanya mengaku aktifis dakwah, Berjuanglah demi Tuhanmu, bukan untuk dirimu, organisasimu atau lawan jenis yang engkau sukai. Biarkan ejekan, caci maki atau pelecehan dari musuh nyata sebagai bumbu bagi dakwah kalian. Jadikan kata-kata sinis dari orang yang mengaku bagian darimu sebagai pengingat bahwa dakwah ini tidaklah mulus. Sesungguhnya Dia akan menolongmu, jika kamu berkontribusi untuk kejayaan agamaNya.
Semangat untuk Islam,Allahu Akbar!!
(Ciputat,22 November 2011)











