Islamedia - Idealnya seorang pemimpin adalah mampu mempunyai kemampuan mempengaruhi. Sebab pengaruh itu, inti kepemimpinan begitu tulis banyak pakar teori kepemimpinan. Ketika seorang berhasil menciptakan pengaruh maka dia lebih mudah mengarahkan orang lain. Tapi, kritik Anis Matta“ memimpin tidak sama dengan mengendalikan”. Untuk itu, pemimpin berpengaruh menyadur perkataan seorang guru saya ketika masih bersekolah perlu memiliki “kewibawaan”. Tanpa wibawa dia mudah diremehkan bawahannya dan perkataannya dianggap angin lalu.
Indonesia sendiri, banyak pemimpin yang berpengaruh. Mereka memiliki daya pikat besar, karena tiga hal yakni ide (gagasan), orang dan uang. Soekarno dan Soeharto, dibesarkan jiwa kepemimpinan ditopang gagasan besar “revolusi” dan “Pembangunan”. Sepanjang mereka berkuasa, banyak rakyat Indonesia mudah berucap “Bapak Revolusioner Indonesia, ya Bung Karno”. Tak sedikit nyeletuk “ Pak Harto pemimpin yang dirindukan. Harga beras zaman dia berkuasa, murah. Rakyat hidup makmur dengan pembangunan yang dirintisnya. Tapi dia dikutuk juga sebagian kalangan. Mengapa ? Karena KKN zaman dia berkuasa sangat mengakar di tubuh bangsa Indonesia”
Kepemimpinan bicara gagasan selalu berbincang apa yang bisa disampaikan seorang pemimpin kepada khalayak umum (disebut juga konstituen, bawahan atau pengikut). Dan repotnya, seperti nafas gagasan itu sendiri yang mudah menguap. Dewasa ini Indonesia seperti kehilangan pemimpin yang memiliki gagasan besar. Rezim berganti mulai dari Pak Habibie, Mbah Gus Dur, Mbak Mega dan Pak Jenderal SBY. Mereka mendapatkan kesempatan memimpin perahu besar bernama Indonesia. Tapi akar penyakit Indonesia baru tahap ditemukan, belum dapat disembuhkan. KKN masih merajalela, kekerasan masih bermunculan dan trilogi pembangunan (pendidikan, kesehatan dan ekonomi) masih terjebak stagnasi. Artinya, Indonesia butuh kepercayaan diri kembali menumbuhkembangkan pemimpin berfikir besar.
Kedua, orang yaitu bagaimana kemampuan (kompetensi) seorang pemimpin sehingga dia layak dikatakan sebagai pemimpin. Kompetensi berarti dia memiliki kemampuan menciptakan perubahan. Dalam konteks kekinian, Indonesia berada pada kondisi titik nadir menuju negara gagal. Dewan Penasehat KPK, Abdullah Hemahua pernah mengatakan “ Masa depan Indonesia ada tiga. Pertama, Indonesia akan menghilang dari sejarah. Kedua, Indonesia ada dalam sejarah dan negaranya masih berdiri tapi dijajah bangsa lain. Ketiga, Indonesia akan memimpin dunia dan menjadi negara dengan kondisi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang baik, serta memperoleh ridlo dan ampunan Allah SWT (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur). Untuk itu, ada kiranya seorang pemimpin wajib memfirasati diri dan masa depan bangsanya. Sehingga mengutip perkataan Ryaas Rasyid “ Seorang pemimpin harus mampu memikirkan Indonesia 103 tahun lalu dan 103 tahun mendatang”. Artinya pemimpin perlu berfikir visioner dan bergerak dengan pemahaman radikal (paham sebuah masalah sampai ke akar-akarnya)
Ketiga, persoalan uang (finansial) yang masih tertutup paradigma sempit. Ketika bicara uang, kita masih banyak terjepit kemiskinan dan kesulitan merumuskan cara memperolehnya. Tidak sedikit dari kita terlupa perkataan Rasulullah SAW sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah usaha. Satu saja dari keterampilan tangan atau profesional. Sebuah perkataan dashyat yang menegaskan, setiap muslim wajib kaya dan meluangkan waktu untuk berbisnis. Bercermin dari kehidupan Rasulullah SAW, sejak umur sembilan tahun sudah berbisnis “domba”. Ketika umur dua belas tahun mendapatkan pendidikan militer. Menjelang remaja, Allah mencuci hatinya agar tidak mudah terkotori penyakit dunia. Semakin dewasa, umur 20 tahun dia berangkat ke Syam, membawa bisnis Khadijah. Puncaknya, umur dua puluh lima tahun beliau menikahi sang janda, Khadijah ra. Berapa maharnya? Rasulullah memberikan 100 unta merah. Dan pada usia matang kepemimpinan beliau diberikan kepercayaan memimpin umat Islam yang berhasil dibawanya mencapai puncak kejayaan.
Kepemimpinan Lemah, Mengapa?
Jika mengaca pada sejarah, kepemimpinan Indonesia sering mengalami pasang surut. Pernah suatu ketika Indonesia mencapai puncak kejayaan memimpin Asia Afrika melalui Konferensi Asia Afrika. Sebuah gagasan besar menyatukan kepemimpinan negara besar melawan kekuatan besar dua kutub perpolitikan dunia Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kita juga pernah mengalami masa kejayaan pembangunan ketika Indonesia tahun 1984 mencapai swasembada pangan. Kedua prestasi itu membuktikan, pernah lahir dari rahim wanita Indonesia manusia besar yang mampu membesarkan zamannya. Tapi seiring perjalanan waktu, mengapa kepemimpinan Indonesia sekarang melemah? Tentunya banyak analisis untuk membaca kondisi itu, “Likulli marhatalatin rijaluha, likulli marhataltin thabiatuha (setiap masa ada pemudanya,. Setiap zaman ada selera/tabiatnya)”. Rentang waktu panjang sejarah akhirnya mengajarkan kita kepemimpinan lemah setidaknya karena tiga faktor.











