This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 29 Oktober 2012

Nasihat ustman Bin Affan

Nasihat Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.
Orang mukmin bisa merasa cemas karena enam hal, Yaitu:
1. Cemas (takut kepada Allah), khawatir jikalau sewaktu-waktu Allah mencabut kenikmatan iman.

2. Cemas akan malaikat hafadhah (pencatat), takut mereka mencantumkan amal yang dapatmempermalukan diri pada hari kiamat.

3. Cemas akan setan, takut seandainya ulah mereka menjadi sebab terhapusnya segala amalkebaikan diri.

4. Cemas akan malaikat maut, takut tiba-tiba nyawa dicabut, sedang diri tengah lengah atau lupa.

5. Cemas akan gemerlap dunia, takut diri terbujuk, terpukau, sehingga lupa kehidupan akhirat.

 6. Cemas akan keluarga, takut terlalu disibukkan oleh mereka, sehingga lupa dari mengingat Allah'azza wa jalla.

*Dikutip dari kitab Nasha-ihul 'Ibad (Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-'Asqalani)

Sabtu, 16 Juni 2012

PRODUK - PRODUK JURNALISTIK

[PENULIS TIDAK BERTANGGUNGJAWAB ATAS KECERDASAN ANDA YANG TIDAK DIPAKAI DAN HANYA MENCOPY SELURUH MAKALAH INI]
  1. Berita
Hornby menjelaskan bahwasanya news sebagai laporan tentang apa yang terjadi paling mutakhir, baik peristiwanya maupun faktanya. Secara ilmiah Curtis D. Macdougall menyatakan bahwa berita yang selalu dicari oleh para reporter adalah laporan tentang fakta yang terlibat dalam suatu peristiwa, namun bukan hakiki dari peristiwa itu sendiri. Secara etimologis istilah berita dalam bahasa Indonesia mendekati istilah bericht dalam bahasa belanda. Sedangkan departemen pendidikan RI membakukan istilah berita dengan pengertian  sebagai laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Jadi berita itu sendiri adalah laporan atau pemberitahuan tentang segala peristiwa aktual yang menarik perhatian orang banyak.

  1. Tajuk
Manurut Webster’s World University Dictionary menjelaskan pengertian tajuk adalah sebuah karangan, dalam majalah atau suratkabar, yang mengomentari masalah yang aktual atau menyajikan kebijaksanaan suatu pemberitaan. Halaman khusus yang disebut pula tajuk itu biasanya berisi opini pemilik surat kabar terkait, dinyatakan secara tertulis dalam bentuk ulasan, grafik, kartun atau opini-opini.

  1. Feature
Pengertian istilahnya sendiri feature mengandung makna utama, istimewa, yang diutamakan atau ditonjolkan. Bahkan Evans mengartikan sebagai hal yang terkemuka atau mencolok dan Sykes menambahkan dengan pengertian distinctive (khusus atau sendiri). Feature dapat diartikan sebagai artikel atau berita yang khusus dan istimewa atau ditonjolkan untuk bisa menarik perhatian dan dinikmati pembaca, sehingga mereka mau menikmatiya dengan membaca, mendengarkan, atau menonton siaran yang disajikannya itu. Feature lebih memberikan kesempatan kepada pembuatnya untuk melakukan penafsiran sehingga isinya lebih subyektif lagi.



  1. Kartun
Menurut Hornby, kartun adalah gambar lucu yang melukiskan kejadian-kejadian mutakhir dari suatu pemerintahan atau perilaku kebijakan seorang pejabat negara. Didalamnya terdapat gambar tiruan dari tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa yang dikartunkan itu. Dalam hal ini karikatur dibuat untuk melukiskan ucapan, perilaku atau rupa yang menekankan cirri khas orang atau tokoh yang disindirnya, sehingga memancing cemooh para pembacanya. Bertahun-tahun karikatur telah mengembangkan kekuatannya dalam membentuk opini publik. Pemuatan karikatur dimaksud sangat tergantung dari bobot informasi dan kepentingannya.
                        
  1. Resensi
Menurut Hornby resensi itu sebagai laporan tertukis tentang isi buku yang diterbitkan atau dipublikasikan paling akhir, untuk suatu terbitan berkala. Sudah tentu laporan dimaksud berupa penilaian terhadap semua aspek yang ada didalamnya. Bahkan Hornby pun tidak membatasi objeknya pada bobot baku saja, melainkan juga pagelaran atau pertunjukan lain yang sifatnya publikasi.

  1. Surat pembaca
Surat-surat pendek dengan topic mutakhir yang masuk kemeja redaksi akan dipertimbangkan berdasarkan periode masanya. Beberapa diantaranya ada yang mengemukakan pujian, ada yang lainnya penuh dengan celaan. Para redaktur selalu gembira menerima kedua jenis surat dimaksud, dan kini kedua jenis surat itu dapat ditemui di halaman tajuk. Dari dahulu surat pembaca dinilai sebagai tulisan yang paling penting. Dengan demikian tampak bahwa para redaktur selalu responsive terhadap berbagi berita dari berbagai negeri. Pertukaran tulisan demikian memuat halaman tajuk menjadi lebih menarik dan berharga.

Sabtu, 31 Maret 2012

Trias Politika dan Politik Indonesia

Trias Politika adalah sebuah ide yang pernah dicetuskan oleh Montesqueieu dalam buku Spirits of the Laws pada tahun 1748. Trias Politika yang diterapkan ialah pemisahan kekuasaan kepada 3 lembaga berbeda, antara lain Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif. Legislatif adalah lembaga untuk membuat undang-undang; Eksekutif adalah lembaga yang melaksanakan undang-undang. Dan Yudikatif adalah lembaga yang mengawasi jalannya pemerintahan dan negara secara keseluruhan, menginterpretasikan undang-undang jika ada sengketa, serta menjatuhlan sanksi bagi lembaga ataupun perseorangan manapun yang melanggar undang-undang.
Dalam aplikasinya, ada tiga kewenangan berbeda di tiga lembaga tersebut yang bertujuan untuk menyeimbangkan pemerintah agar tidak full power, meminimalisir korupsi pemerintahan oleh satu lembaga dan yang lebih penting lagi adanya peran check and balances (saling koreksi, saling mengimbangi). Jika kita berbicara Trias politika, maka tidak hanya tokoh di atas yang mencetuskan ide tersebut.
Akan tetapi ada juga tokoh yang mencetuskan ide ini. Tokoh tersebut ialah John Locke. John Locke adalah orang yang menginspirasi Montesqueieu untuk membuat konsep Trias Politika. John Locke hidup pada tahun 1632-1704. Pemikiran John Locke mengenai Trias Politika ada di dalam Magnum Opus yang berjudul Two Treatises of Goverment yang terbit tahun 1690. Menurut John Locke, negara ada dengan tujuan utama untuk melindungi milik pribadi dari serangan individu lain. Untuk tujuan tersebut itulah perlu adanya kekuasaan terpisah, kekuasaan yang tidak absolut di tangan raja/ratu. Menurut John Locke, kekuasaan yang harus terpisah tersebut ialah Legislatif, Eksekutif dan Federatif. Hal yang membedakan dengan pemikiran Montesqueieu ialah antara Yudikatif dan Federatif. Federatif menurut John Locke ialah kekuasaan menjalin hubungan dengan negara-negara atau kerajaan-kerajaan lain. Federatif bertujuan untuk membangun liga perang, aliansi politik luar negeri, menyatakan perang dan damai, mengangkat duta besar dan sejenisnya.[1] Fungsi lembaga-lembaga tersebut ialah :
1.      Fungsi Legislatif
Lembaga legislatif atau di Indonesia lembaga ini bernama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Lembaga ini punya untuk membentuk undang-undang. Lembaga ini dipilih melalui mekanisme dari partai-partai politik. Menurut Michael G. Roskin, fungsi legislatif ialah Lawmaking (membuat undang-undang) , Constituency Work (bekerja bagi para pemilihnya), Supervision and Critism Government (Pengawasan terhdap pemerintah atas dijalankannya undang-undang), Education (memberikan pendidikan politik), dan Representation (mewakili pemilih).
2.      Fungsi Eksekutif
Lembaga Eksekutif atau lebih sering disebut dengan pemerintah ialah kekuasaan yang menjadi pengeksekusi undang-undang yang telah dirumuskan oleh lembaga legislatif. Antara lain fungsi-fungsinya ialah Chief of state (kepala negara), Head of government (Kepala pemerintahan), Party chief (pemenang pemilu), Commander in chief (kepala angkatan bersenjata) ,Chief diplomat (mengepalai duta-duta besar) , Dispenser of appointments (membuat perjanjian dengan pihak lain), dan Chief legislators (menyosialisasikan undang-undang) .
3.      Fungsi Yudikatif
Fungsi Yudikatif antara lain Criminal law (petty offense, misdemeanor, felonies),Civil law (perkawinan, perceraian, warisan, perawatan anak),Constitution law (masalah seputan penafsiran kontitusi),Administrative law (hukum yang mengatur administrasi negara),International law (perjanjian internasional).[2]

Analisis:
Indonesia adalah negara yang telah memakai banyak sistem pemerintahan. Dari serikat, parlementer, diktator, hingga presidensil yang berdasar pada trias politika. Trias politika adalah suatu konsep yang baik, tapi memang untuk mengidealkan sistem tersebut sangat sulit di Indonesia. Dengan geografis dan keadaan masyarakat yang ada di indonesia, banyak hal aplikatif yang membuat trias politika itu berjalan dengan baik. Disamping rasa demokrasi yang menggaung di telinga kita terus tiap hari, maka trias politika menjadi sistem paling cocok hari ini untuk Indonesia.

Nama : Dicky Rinaldy
NIM : 109051000025


[1]Budiarjo, Miriam.2001.Dasar-Dasar Ilmu Politik.Gramedia:Jakarta
[2] Michael G. Roskin,et al., Political Science: An Introduction, Bab 13, 14

KEWENANGAN PERS DI RANAH PUBLIK

Pers adalah salah satu bagian terpenting dalam sebuah tatanan masyarakat. Jika ditelisik dari sejarah, bagaimana Nabi Nuh memulai perdaban melalui info untuk menyampaikan risalah kepada umatnya atau bagaimana kekaisaran Romawi mengumumkan sebuah informasi kepada rakyatnya. Dan jika kita melihat dari judul, ada 3 kunci kata yang dapat kita ambil, yaitu wewenang, pers dan publik. Pers ialah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang menjalankan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar serta data grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia. Dimana pers saat ini tidak hanya terbatas pada media cetak maupun media elektronik tetapi juga telah merambah ke berbagai medium informasi seperti internet. Jika berbicara wewenang, akan mengandung makna Wewenang adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar mencapai tujuan tertentu.
Ada 2 pandangan mengenai sumber wewenang, yaitu :
1. Formal, bahwa wewenang di anugerahkan karena seseorang diberi atau dilimpahkan/diwarisi hal tersebut.
2. Penerimaan, bahwa wewenang seseorang muncul hanya bila hal itu diterima oleh kelompok/individu kepada siapa wewenang tersebut dijalankan.
Chester Bernard mendukung pandangan tersebut dengan menulis :
1. Komunikasi dapat dipahami
2. Dapat dipercayai bahwa hal tesebut tidak menyimpang disaat keputusannya dibuat.
3. Secara keseluruhan, dapat diyakini bahwa hal tersebut tidak bertentangan dengan kepentingan pribadinya.
4. Secara mental dan fisik mampu untuk mengikutinya.
Kekuasaan (power) sering sekali dicampur adukan dengan pengertian wewenang. Kekuasaan itu sendiri memiliki arti sebagai suatu kemampuan untuk melakukan hak tersebut. Ada banyak sumber dari kekuasaan itu sendiri, dan keenam sumber kekuasaan tersebut dapat diringkas sebagai berikut :
1. Kekuasaan balas – jasa.
2. Kekuasaan paksaan.
3. Kekuasaan sah.
4. Kekuasaan pengendalian informasi.
5. Kekuasaan panutan.
6. Kekuasaan ahli.
Persamaan tanggung jawab dan wewenang adalah baik dalam teori, tetapi sukar dicapai. Dapat disimpulkan, wewenang dan tanggung jawab adalah sama dalam jangka panjang, dan dalam jangka pendek, tanggung jawab lebih besar peranannya dari pada wewenang itu sendiri.
Khalayak (public) adalah kelompok orang-orang yang berkomunikasi dengan suatu organisasi, baik secara internal maupun eksternal. Publik di media biasa juga disebut dengan mass (massa). Karena massa ini adalah heterogen, sangat cair  dan tidak ada pengorganisasian yang baik.
Di era modern ini, setelah pers berkembang sangat pesat, peran pers dalam masyarakat tidak tergantikan. Keingintahuan masyarakat akan informasi yang beredar, dari politik, ekonomi, sosial, bahkan kehidupan pribadi publik figur sangat besar. Dan memang sudah terbukti bahwa berkembangnya ekonomi, sosial, politik dan budaya suatu masyarakat karena adanya peran pers juga. Dan medianya pun sekarang sangat luas. Dulu, mungkin kertas adalah media yang paling sering digunakan dan memang kata ‘pers’ itu dipakai untuk memberitahukan bahwa produksi media massa saat itu adalah menekan atau’press’. Koran, majalah, televisi, radio bahkan yang terbaru, internet menjadi media modern yang dapat memberitahukan ke khalayak banyak tentang informasi yang berkembang setiap minggu, hari, jam, menit, bahkan detik!

Sabtu, 10 Maret 2012

refleksi seorang Da'i

Oleh : Ust. Farid Nu'man

Mukadimah

Sebenarnya tidak beda dengan bayang-bayang, aku juga dijuluki tuan dan nyonya klin, yang senantiasa menjaga kebersihan, terlebih kebersihan akhlak dan hati. Jadwal aktifitasku segudang, janji-janjiku selemari, pokoknya sibuk. Ah, aku jadi malu. Dakwah, jihad dan nasehat merupakan pakaian keseharianku, si tuan dan nyonya clean. Pokoknya aku mempunyai sesuatu yang orang lain belum tentu punya, bercita-cita yang belum tentu orang lain punya, sudahlah!!

“Katakanlah apakah akan Kami beritahukan padamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” (QS. Al Kahfi: 103)

Tiba-tiba hati ini tergerak untuk mengusap sebelah mata, dan tampak dua helai bulu mata menempel di ujung jari. Lalu kutiup, terbang dan hilang. Setiap kali diri ini bertanya, ke mana jatuhnya bulu mata itu? Dan selalu ku jawab, di atas bumi yang fana ini, paling tidak, masih di sekitar diri ini berdiri. Lalu terbayang diri ini begitu lemah dan kerdil dibanding luas dan buasnya kehidupan dunia. Manusia memang lemah, seperti bulu mataku!

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”(QS. An Nisa:28)

Kucoba bertanya kepada bayang-bayang semu, yang senantiasa menyertai derap langkahku. Siapa Anda? Siapa kalian? Tanyaku. Bayang-bayang menjawab, aku adalah tuan dan nyonya clean (klin). Alhamdulillah, Tuhanku menjadikan aku seperti sekarang, menarik, aktif, bergejolak, supel, n’ sholih –katanya.

Aah … bayang-bayang itu memuji dirinya sendiri. Apakah dia tidak tahu, keranjang sana masih banyak yang lebih berharga dari dirinya, di mata Tuhannya, yaa … di mata Tuhannya, bukan di mata kawan-kawan seaktifitas yang memuji dirinya sedimikian rupa sehingga dia ghurur atau terpedaya.

“Kehidupan dunia telah memperdaya mereka” (QS. Al An’am: 130)

Lalu, dengan malu-malu, kutanya diriku ‘Siapa Anda??’, yaa siapa diriku. Demi Tuhannya Ka’bah, aku malu menjawabnya. Apakah tidak ada pertanyaan lain? Baiklah aku jawab, ya Allah saksikanlah!

Sebenarnya tidak beda dengan bayang-bayang, aku juga dijuluki tuan dan nyonya klin, yang senantiasa menjaga kebersihan, terlebih kebersihan akhlak dan hati. Jadwal aktifitasku segudang, janji-janjiku selemari, pokoknya sibuk. Ah, aku jadi malu. Dakwah, jihad dan nasehat merupakan pakaian keseharianku, si tuan dan nyonya clean. Pokoknya aku mempunyai sesuatu yang orang lain belum tentu punya, bercita-cita yang belum tentu orang lain punya, sudahlah!!

“Katakanlah apakah akan Kami beritahukan padamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” (QS. Al Kahfi: 103)

Ya Allah, aku ingin tahu…Kita semua ingin tahu.

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi: 104)

Yaa Rabbi, maafkan hambaMu yang tertipu oleh perbuatannya sendiri.

Begitulah aku sebagai manusia hanya memandang diri sendiri melalui pas photo close up yang bersih, elok tetapi tidak utuh. Aslinya begitu kotor dan keruh. Sebaliknya memandang orang lain, yang lebih muda, yang jabatannya rendah, yang tidak seaktif kita, dengan pandangan manusia super dan tinggi. Sehingga yang lain “tidak seperti aku,” maka harus di”aku”kan seperti aku…dan kita.

Sebaiknya aku tanya bayang-bayang, bagaimana keadaanmu? Tanyaku. So bad, buruk! Belakangan, hampir semua tawaran kegiatanku tak ada yang merespon, sedikit pengunjung. Padahal dana banyak keluar, acara pun dikemas dengan apik. Para pembicara adalah orang-orang yang berbobot. Tapiii…yach! Kurasa aku sudah tidak menarik lagi. Aah..bayang-bayang berkeluh kesah. Apakah dia tidak tahu, di keranjang sana masih banyak yang lebih hebat penderitaannya dibandingkan dirinya.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. Al Ma’arij: 19)

Tiba-tiba tergerak hati ini untuk mengingat-ingat, benar! Telah terjadi peristiwa yang sama antara bayang-bayang semu dengan diriku, si tuan dan nyonya clean! Telah banyak haflah (acara), muhadharah (seminar), dan tabligh aku gulirkan tapi tidak menarik perhatian dan tidak menggerakkan hati dan perasaan orang-orang. Fuhh…aku tahu, ya Allah…. Ternyata peranku “sekedar menggulirkan” dan memposisikan orang-orang adalah “ember” yang harus menampung semua keinginan-keinginan. Geli rasanya –entahlah, ini geli jijik atau geli karena lucu- melihat diriku, si tuan dan nyonya clean seperti calo di terminal. Menjual karcis dan berteriak-teriak, tetapi tidak pernah memanfaatkan karcis itu untuk dirinya sendiri. Merasa sudah cukup baik dan faham; biarlah kita di luar saja, sedangkan mereka –orang-orang itu- mendengarkan dengan baik dan khusyuk muhadharah, atau tabligh itu. Ya Karim, bila demikian keadaan hati kami berpenyakit, sembuhkanlah, agar tidak menjadi hati-hati yang sombong!

Menyalahkan orang lain tidak mau mendengarkan nasehat-nasehat agama, sementara aku, ya..itu tadi, sekedar menggulirkan! Aku tidak sadar, aku ini da’I bukan calo, meminta orang untuk menghadiri majelis nasehat. Sementara aku sibuk dengan kepanitiaannya, urusan administrasinya saja, sekali lagi sekedar menggulirkan. Calo!

Bukan begitu tuan clean, bukan demikian nyonya clean, sebagaimana mereka butuh nasehat dan ilmu-ilmu agama, kita pun demikian. Bersimpuh bersama mereka, dalam ruangan majelis yang sama, dengan uraian dari ustadz yang sama, malah menambah harmonisnya suasana dan mendekatkan hati, bukan merendahkan kedudukan kita. Imam Malik ra, mau mendengarkan fatwa muridnya sendiri, Imam Syafi’I ra. Aah…kedua imam itu terlalu tinggi dibanding aku, si tuan dan nyonya clean. Sebenarnya, kita juga berhak atas nasehat itu.

“Wahai orang-orang yang beriman kenapa engkau katakan apa-apa yang tidak engkau kerjakan? Sungguh besar kemurkaan Allah bahwa engkau katakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3)

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri? Padahal kamu membaca al Kitab? Maka tidaklah kamu berfikir?" (QS. Al Baqarah: 44)



Sumber: faridnuman.blogspot.com

Selasa, 31 Januari 2012

Muslim dan Masa Depan Kepemimpinan Nasional

Islamedia - Idealnya seorang pemimpin adalah mampu mempunyai kemampuan mempengaruhi. Sebab pengaruh itu, inti kepemimpinan begitu tulis banyak pakar  teori kepemimpinan. Ketika seorang berhasil menciptakan pengaruh maka dia lebih mudah mengarahkan orang lain. Tapi, kritik Anis Matta“ memimpin tidak sama dengan mengendalikan”. Untuk itu, pemimpin berpengaruh menyadur perkataan seorang guru saya ketika masih bersekolah perlu memiliki “kewibawaan”. Tanpa wibawa dia mudah diremehkan bawahannya dan perkataannya dianggap angin lalu.

Indonesia sendiri, banyak pemimpin yang berpengaruh. Mereka memiliki daya pikat besar, karena tiga hal yakni ide (gagasan), orang dan uang. Soekarno dan Soeharto, dibesarkan jiwa kepemimpinan ditopang gagasan besar “revolusi” dan “Pembangunan”. Sepanjang mereka berkuasa, banyak rakyat Indonesia mudah berucap “Bapak Revolusioner Indonesia, ya Bung Karno”. Tak sedikit nyeletuk “ Pak Harto pemimpin yang dirindukan. Harga beras zaman dia berkuasa, murah. Rakyat hidup makmur dengan pembangunan yang dirintisnya. Tapi dia dikutuk juga sebagian kalangan. Mengapa ? Karena KKN zaman dia berkuasa sangat mengakar di tubuh bangsa Indonesia”

Kepemimpinan bicara gagasan selalu berbincang apa yang bisa disampaikan seorang pemimpin kepada khalayak umum (disebut juga konstituen, bawahan atau pengikut). Dan repotnya, seperti nafas gagasan itu sendiri yang mudah menguap. Dewasa ini Indonesia seperti kehilangan pemimpin yang memiliki gagasan besar. Rezim berganti mulai dari Pak Habibie, Mbah Gus Dur, Mbak Mega dan Pak Jenderal SBY. Mereka mendapatkan kesempatan memimpin perahu besar bernama Indonesia. Tapi akar penyakit Indonesia baru tahap ditemukan, belum dapat disembuhkan. KKN masih merajalela, kekerasan masih bermunculan dan trilogi pembangunan (pendidikan, kesehatan dan ekonomi) masih terjebak stagnasi. Artinya, Indonesia butuh kepercayaan diri kembali menumbuhkembangkan pemimpin berfikir besar.

Kedua, orang yaitu bagaimana kemampuan (kompetensi) seorang pemimpin sehingga dia layak dikatakan sebagai pemimpin. Kompetensi berarti dia memiliki kemampuan menciptakan perubahan. Dalam konteks kekinian, Indonesia berada pada kondisi titik nadir menuju negara gagal. Dewan Penasehat KPK, Abdullah Hemahua pernah mengatakan “ Masa depan Indonesia ada tiga. Pertama, Indonesia akan menghilang dari sejarah. Kedua, Indonesia ada dalam sejarah dan negaranya masih berdiri tapi dijajah bangsa lain. Ketiga, Indonesia akan memimpin dunia dan menjadi negara dengan kondisi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang baik, serta memperoleh ridlo dan ampunan Allah SWT (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur). Untuk itu, ada kiranya seorang pemimpin wajib memfirasati diri dan masa depan bangsanya. Sehingga mengutip perkataan Ryaas Rasyid “ Seorang pemimpin harus mampu memikirkan Indonesia 103 tahun lalu dan 103 tahun mendatang”. Artinya pemimpin perlu berfikir visioner dan bergerak dengan pemahaman radikal (paham sebuah masalah sampai ke akar-akarnya)

Ketiga, persoalan uang (finansial) yang masih tertutup paradigma sempit. Ketika bicara uang, kita masih banyak terjepit kemiskinan dan kesulitan merumuskan cara memperolehnya. Tidak sedikit dari kita terlupa perkataan Rasulullah SAW sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah usaha.  Satu saja dari keterampilan tangan atau profesional. Sebuah perkataan dashyat yang menegaskan, setiap muslim wajib kaya dan meluangkan waktu untuk berbisnis. Bercermin dari kehidupan Rasulullah SAW, sejak umur sembilan tahun sudah berbisnis “domba”. Ketika umur dua belas tahun mendapatkan pendidikan militer. Menjelang remaja, Allah mencuci hatinya agar tidak mudah terkotori penyakit dunia. Semakin dewasa, umur 20 tahun dia berangkat ke Syam, membawa bisnis Khadijah. Puncaknya, umur dua puluh lima tahun beliau menikahi sang janda, Khadijah ra. Berapa maharnya? Rasulullah memberikan 100 unta merah. Dan pada  usia matang kepemimpinan beliau diberikan kepercayaan memimpin umat Islam yang berhasil dibawanya mencapai puncak kejayaan.

Kepemimpinan Lemah, Mengapa?

Jika mengaca pada sejarah, kepemimpinan Indonesia sering mengalami pasang surut. Pernah suatu ketika Indonesia mencapai puncak kejayaan memimpin Asia Afrika melalui Konferensi Asia Afrika. Sebuah gagasan besar menyatukan kepemimpinan negara besar melawan kekuatan besar dua kutub perpolitikan dunia Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kita juga pernah mengalami masa kejayaan pembangunan ketika Indonesia tahun 1984 mencapai swasembada pangan. Kedua prestasi itu membuktikan, pernah lahir dari rahim wanita Indonesia manusia besar yang mampu membesarkan zamannya. Tapi seiring perjalanan waktu, mengapa kepemimpinan Indonesia sekarang melemah? Tentunya banyak analisis untuk membaca kondisi itu, “Likulli marhatalatin rijaluha, likulli marhataltin thabiatuha (setiap masa ada pemudanya,. Setiap zaman ada selera/tabiatnya)”. Rentang waktu panjang sejarah akhirnya mengajarkan kita kepemimpinan lemah setidaknya karena tiga faktor. 

Calon Suamiku Harus Tinggi!

Akhwat 1: “Calon suamiku itu harus tinggi”
Akhwat 2: “Aih… kriteria macam apa itu….?”
Akhwat 1: “Loh, terserah aku dong… wong yang mau nikah itu aku…”
Akhwat 2: “Oala ukh… iya iya… tapi mbok ya jangan gitu lah… moso patokannya fisikis gitu..? Berarti nanti kalo ada ikhwan shalih yang datang melamar, udah mapan dan tanggungjawab besar, bakal kamu tolak cuma karna ia kurang tinggi begitu??”
Akhwat 1: “Lah iya… syarat ya syarat… ga mau tau pokonya kudu yang tinggi. Titik.”
Akhwat 2: *geleng-geleng
Akhwat 1: *senyum-senyum.
……………………………………….
Akhwat 1: “…Mba e… dengerin dulu nih lanjutannya…”
Akhwat 2: “Lanjutan opo ukh..?”
Akhwat 1: “Ya lanjutan kalimat aku tadi lah mba…”
Akhwat 2: “Memang opo toh?”
Akhwat 1: “Calon suamiku itu harus tinggi… tinggi ilmunya, tinggi ketaatannya pada Allah, tinggi derajatnya di mata Allah,, tinggi militansinya terhadap dakwah, tinggi rasa tanggungjawabnya pada keluarga… gitu mba… heheh…. :) ”
Akhwat 2: “Ooo… oalaaa… ” *tepok jidat

Jumat, 06 Januari 2012

Ini Mimpiku Kawan

Kawan. Pernah kah membayangkan tentang bagaimana kemenangan dakwah kampus. pernah sepersekian detik kamu berkhayal tentang indahnya kampus ketika nilai Islam meresapi setiap relung mahasiswa di kampus.
Tahukah kamu kawan, aku pernah membayangkannya, aku pernah masuk dalam indahnya bermimpi tentang kemenangan itu, rasanya sangat indah, dan aku ingin juga membagi rasa ini kepada kawan semua.
Monolog berikut kupersembahkan khusus untuk pejuang dakwah yang tak kenal lelah. Yakinlah bahwa tetes keringat yang berjatuhan adalah saksi bisu atas perjuangan besar Karena rindu pada Rabb..

Aku sedang berjalan di jalan setapak taman masjid kampusku, sebuah masjid kampus yang megah karena arsitekturnya yang kompleks. Arsitektur masjid tanpa pilar dan kubah, serta di alasi oleh kayu yang menghangatkan jemari dan dahi yang bersujud dan bersimpuh meraih nikmat Rabb. Aku menjadi teringat pemandangan 10 tahun lalu, ketika aku dipercaya sebagai amirul mukminin di kampus ini. tidak ada yang berbeda dengan nuansa kampus ini, tidak ada yang berubah dari masjid kampus ini, masih sama, masih sejuk dan menimbulkan sebuah kenangan indah atas perjuangan dakwah aku dan kawan-kawanku ketika masih mahasiswa.
Siang itu, azan zuhur tiba, “Hayya ‘alaa Sholaa” begitulah pekikan muazin ketika aku melepas tali sepatu ku. Terdiam sejenak mencoba melihat sekeliling tempat penitipan, segerombolan orang hilir mudik tergesa-gesa menuju kedalam masjid, mereka berjalan menunduk dan dengan langkah sigap, seakan-akan ketinggalan kereta terakhir di stasiun. Mereka bahkan rela membuang makanan yang mereka sedang bawa demi meraih keutamaan Rukun Islam ini. toko pun menutup gerai mereka dan memasang tulisan besar berwarna merah “TUTUP 10 MENIT, SEDANG SHALAT” di depan pintu toko-toko yang menjadi bagian terintegrasi dari masjid kampus ini. Melihat kearah timur, sebuah gedung kayu yang tak berubah masih berdiri tegak disana, bisa aku lihat, mahasiswi berjilbab lebar dengan warna-warni komposisi baju dan rok yang sangat indah. Memberikan kesan anggun tersendiri bagi mereka. Aku memperhatikan mereka bergegas mengunci pintu gedung kayu dan segera memasuki ruang wudhu perempuan.
Aku mencoba berpikir apa yang terjadi, 10 tahun sejak aku berpisah dengan kampus ini dan meraih pendidikan di luar negeri ternyata telah membuat sebuah nuansa berbeda, tapi aku mencoba berpikir kembali “mungkin ini dampak ramadhan yang baru usai pekan lalu”. Kutitipkan sepatu puma berwarna coklat milikiku, ke penitipan sepatu, tak lagi kukenal siapa yang menjaga tempat sepatu itu, diberikanlah kepada ku sebuah kartu yang mirip denga credit card berwarna hijau toska sebagai tanda bukti penitipan sepatuku.
Berjalan kembali diriku untuk mengambil air wudhu, “laa ilaaha illalallahu..” azan pun usai, lantai keramik putih itu sudah diganti sepertinya, dengan lantai yang lebih kokoh dan berwarna sawo matang, Basuhan wudhu terakhir ku ke jari kaki kelingking bersamaan dengan bunyi microphone yang sedang di nyalakan, aku pun bergegas menaiki tangga masjid untuk mengikuti ritual Shalat zuhur ini.
Terperanjat diriku melihat pemandangan yang hampir tidak bisa aku bayangkan 10 tahun silam, jamaah zuhur sangat berlimpah, hingga ke koridor masjid, balkon lantai dua dipenuhi muslimah-muslimah yang juga dengan rapat menjaga keutamaan shaff berjamaah. Aku berpikir, kawan, mungkin itu mengapa banyak mahasiswa yang terburu-buru menuju masjid, saat ini, hukuman bagi mahasiswa yang telat hadir shalat berjamaah adalah tidak mendapatkan shaff pertama. Subhanallah, kuulangi kawan, hukuman yang mereka khawatirkan jika telat bergabung dalam shalat berjamaah adalah tidak mendapat tempat shalat di shaff pertama.
Aku pun terpaksa shalat di koridor selatan masjid, siku-ku sangat dekat dengan tembok pembatas, karena jamaah mencoba mengisi setiap millimeter ruang yang ada dengan baik. Sebuah kebiasaan yang ditempa di masjid kampus ku, teringat saat masih kuliah dulu, imam masjid tidak mau memulai jika shaff tidak kunjung rapat.
rapatkan shaff shalat, ujung kelingking menempel kelingking sebelahnya dan pundak menempel pundak. Pastikan shaff rata dan lurus. Sebaik-baik nya shaff untuk pria adalah shaff pertama, sebaik-baiknya shaff untuk perempuan adalah shaff yang paling belakang. Penuhi dahulu shaff terdepan, pastikan tidak ada celah yang ada, shaff selanjutnya dimulai dari tengah. Rapatkan dan luruskan”
Kata-kata rutin yang senantiasa di ulang, dan tanpa sadar aku pun melakukan hal yang sama jika menjadi imam shalat.
Shalat pun dimulai, hening, tenang, tidak ada suara pedagang, tidak ada klakson mobil atau motor, yang ada hanya kicauan burung dan hembusan angin yang membuat sengatan matahari tak terasa pedihnya. Sesekali aku mendengar hentakan kaki pria dewasa yang tergesa-gesa bergabung dalam jamaah; sial aku telat, mungkin itu kata-kata yang ia ucapkan dalam hati, meratapi dirinya yang gagal mendapat shaff pertama.
“Assalamualaikum warahmatullah” imam mengakhiri shalat dengan salam yang menggetarkan hati, terasa dalam suaranya ia enggan berhenti dari suatu momen untuk berkomunikasi dengan Rabb. Zikir dan do’a aku lantunkan dalam hati setelah salam ku, seperti biasa aku menutup mataku dalam do’a setelah shalat. Tidak melihat situasi sekitar. Sekitar 5 menit lamanya aku mencoba mencurahkan isi hati ku pada Allah, mengucapkan syukur karena diizinkan kembali ke kampus ini, tempat aku belajar dan mengenal dakwah Islam.
Alhamdulillah”,  kalimat tahmid ini menutup do’aku seraya membuka kelopak mata dan bergegas mengambil kacamata. Kulihat kanan dan kiri, dan lagi-lagi aku terkejut dengan pemandangan yang aku lihat lagi saat ini, koridor masih penuh jamaah, hanya sebagian yang telah meninggalkan masjid, dan kulihat di shaff belakang ada rombongan jamaah kedua yang menjalankan shalat, aku yakin mereka bukan telat datang, akan tetapi kapasitas masjid yang terbatas memaksa mereka harus shalat di kloter kedua ( istilah yang kami buat saat masih mahasiswa ).
Aku melihat kedepan, seorang lelaki berkaus kerah warna putih, dan dipadu dengan jeans biru serta mengenakan gelang karet sedang membaca Qur’an dengan baik. Di belakangku, tampak mahasiwa high class, yang bisa aku di identifikasikan dari kemeja hitam versacce dan celana coklat tua bermerek arbercrombie, ia sedang sibuk membaca Qur’an melalui layar PDA nya, tipe HP iPaQ seri terbaru, aku mentaksir harganya mencapai 8 juta saat ini.
Diseberang sana, di dalam ruang utama, ada 2 orang bercelana bahan hitam dan di padu dengan kemeja, serta berjenggot tipis, kader dakwah ini pastinya , aku tersenyum dalam hati. Mereka sedang mengecek hafalan Qur’an satu sama lain.
Indahnya kawan, sangat indah, tiba-tiba aku masuk dalam ruang fantasiku, aku membayangkan, bukan, aku menjadi teringat diriku sendirian di ruang utama masjid kampusku, tak banyak orang saat itu, aku mati-matian menghafal an-naba sendirian, karena malamnya aku harus menyetornya ke murrobi ku, kejadian itu tingkat satu kalau tidak salah, atau ketika tingkat 2, aku bersandar di dinding masjid yang tanpa pilar ini, sendirian ( lagi-lagi ) mencoba menghafal al muzzamil , teringat hari itu hujan lebat, menghafal al muzzamil  dalam keadaan hujan menjadi romantika tersendiri bagi diriku.