Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Tinggi
Kami bukan teroris
kami hanya aktifis
kami cinta perdamaian
berpedoman pada Al-Qur'an
Islam bukan teroris
jangan sampai apatis
kezholiman, penindasan
bertentangan dalam Islam
beberapa bait lagu dengan judul “Kami Bukan Teroris” yang disenandungkan tim nasyid haroki I.R.A ini menggambarkan suasana pergerakan umat Islam Indonesia saat ini. Peristiwa yang berkelanjutan, dari isu radikalisme Islam, Negara Islam Indonesia (NII) dan wafatnya Osama Bin Laden, menjadi sebuah isu yang hangat untuk ‘diaduk-aduk’ oleh pihak yang ingin menghancurkan Islam.
Orang-orang yang berada di dalam lingkaran sekuler dan liberalis sungguh sangat senang atas ini. Mereka yang sangat mengagungkan pemikiran Barat mulai menggodok bagaimana bisa menggoyangkan aktivitas dakwah, terutama di Indonesia. Hal ini bisa dilihat bagaimana pakar terorisme Asia Tenggara, Sidney Jones, memaknai bahwa bibit-bibit teroris dimulai dari kajian-kajian atau Rohani Islam (Rohis) di sekolah-sekolah atau kampus-kampus.
Kehidupan bermasyarakat sosial Indonesia sudah bergeser ke arah bermasyarakat yang saling curiga. Curiga terhadap sesuatu yang dianggap ‘lebih’ oleh masyarakat pada umumnya. Kata mereka “Saya ingin menjadi Islam yang biasa-biasa saja”. Jika kita tengok ke belakang, kejadian ini pernah dialami oleh para ‘pejuang’ dakwah pada tahun 80 sampai 90’an. Seharusnya kita bertanya pada diri kita, siapakah teroris sebenarnya?
Kami adalah Rohis, Bukan Teroris
Seperti yang kita tahu, pemuda-pemudi adalah jiwa yang berapi-api dan sedang mencari jati diri. Tawuran pelajar, free sex dan drugs adalah beberapa tempat yang paling sering ‘dikunjungi’ pemuda-pemudi di Indonesia. Sudah banyak survei yang dilakukan untuk mengukur keadaan pergaulan remaja di Indonesia, dan hampir semua survei menyatakan remaja Indonesia dalam pergaulan yang negatif. Keadaan inilah membuat orang-orang yang peduli dengan remaja dan peduli pula dengan keadaan umat Islam membentuk sebuah wadah Islami untuk men’tarbiyah’ atau mendidik para pemuda untuk menjadi lebih baik.
Tahun yang sulit pada awal rohis-rohis dibentuk, pengusiran dari kelas para pengurus rohis karena memakai jilbab, dijauhi karena berjenggot tipis, dan perlakuan lainnya menjadi lembaran hitam yang indah untuk dikenang. Perjuangan para pendahulu menjadi indah, karena rohis sekarang menjadi tolak ukur eksistensi Islam pada sekolah tersebut. Kajian setiap minggu, tasqif, MABIT (Malam Bina Iman dan Takwa), dauroh, menjadi beberapa agenda rohis. Tidak ada isu meneror siapapun, tiada pernah membahas tentang perencanaan tempat yang harus diledakkan dan dipersiapkan untuk menjadi pengantin.
Saya (penulis,red-) sebagai seorang aktivis dakwah sekolah dan sekarang berkecimpung dalam dakwah kampus, mendapatkan hal yang indah di rohis SMA dulu, yang tadinya tidak tahu apa-apa tentang Islam, menjadi lebih baik dalam memahami Islam, yang tadinya sangat jarang berinteraksi dengan Al-Quran, hanya seminggu sekali, itu pun hanya yasinan, sekarang mencoba menjadikan tilawah Quran sebagai ibadah rutinan sehabis solat, banyak hal yang saya temukan di rohis. Rohis menjadi ‘titik balik’ diri saya dalam mencari jati diri, dan saya senang disini.
Tidak jarang para pengurus rohis menjadi terbaik di kelas, bahkan terbaik di sekolah. Dan sudah banyak keluaran aktivis dakwah sekolah, sekarang berkecimpung dalam lembaga dakwah – lembaga dakwah di kampus masing-masing, menjadi terbaik di kampus bahkan ada yang menjadi mahasiswa terbaik nasional. Kami tetap berjuang untuk mendapatkan yang terbaik untuk dunia dan akhirat. Kami memang berjihad, berjihad untuk melawan kebodohan dan keterbelakangan akhlak para pemuda Indonesia saat ini. Salahkah kami berjihad untuk itu? Kami adalah rohis, bukan teroris.
Siapakah Teroris sebenarnya?
Jika saya boleh bertanya pada diri sendiri, siapakah teroris sebenarnya, saya akan menjawab, hedonis dan liberal adalah teroris yang nyata. Kehidupan yang sering dilihat dalam film-film barat menjadi contoh yang harus dicontoh bagi pemuda Indonesia. Tiada filter hati nurani dan berfikir secara luas dan dalam menjadikan semua yang dilihat, menjadi lifestyle di kehidupan hari-hari para pemuda Indonesia. Liberalisme menjadi akar kuat yang memang sudah mencengkram Indonesia ini. Alasan HAM untuk melegalkan pornografi, narkotika, serta kebebasan melakukan sesuatu menjadi pagar yang ‘nyaman’ untuk menghancurkan akhlak para pemuda Indonesia. Menjauhnya para pemuda dari Al-Quran dan hadist menjadi sebuah hal nyata yang diinginkan oleh mereka. Biarkan mereka tetap beragama Islam, tapi hati dan gaya mereka adalah kita. Itu yang sering dibilang oleh misionaris dan para rabbi yang sangat benci dengan Islam, menghancurkan dari dalam.
Para orang yang ingin menghancurkan Islam sesungguhnya sangat takut jika Islam bangkit dari para pemuda, apalagi jika itu dari Indonesia. Sudah ada contoh yang nyata jika para pemuda bergerak untuk menuntut keadilan saat ini, Mesir adalah tempatnya. Jika pergerakan yang massif itu bergerak dari pemuda Indonesia, yang menuntut perbaikan akhlak dari pemuda-pemuda Indonesia, disertai dengan tindakan nyata dari para pemuda untuk memperbaiki akhlak diri masing-masing, mungkin Indonesia akan lebih maju dari Amerika Serikat dan para sekutunya. Maka tidak salah jika Bung Karno pernah berucap, “Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia!”.
Merekalah yang seharusnya kita perangi. Mereka yang membawa hedonis dan liberal ke Indonesia, mereka yang menyuarakan HAM tapi malah suara itu membuat akhlak para pemuda semakin bobrok. Mereka yang ingin menjauhkan para pemuda Islam di Indonesia dari pedoman hidup, Al-Quran dan Al-Hadist. Mereka yang harus kita perangi. Bukannya para pemuda yang sedang mempelajari Islam dan ingin diri mereka menjadi lebih baik. Jangan sampai ketakutan kita membuat Islamophobia dalam diri, padahal kita adalah seorang muslim. Sungguh aneh jika pemeluk Islam, tapi curiga dengan Islam. Kami adalah rohis, bukan teroris.
Dicky Rinaldy –KPI 2009-
Anggota LDK (Lembaga Dakwah Kampus) UIN Syahid Jakarta.
(Insya Allah akan dimuat dalam bulletin "Jejak UsWah"
{Sarbini, 16 mei 2011}







0 buah pikiran:
Posting Komentar