Rabu, 26 Januari 2011

Bahtera Dakwah

Dakwah memang jalan berliku, jalan yang tidak bisa berjalan santai. Ketika kita berjalan, maka itu menjadi pijakan berat bagi kita, kita dituntut untuk bertahan, untuk mengemban tugas lebih berat dari orang kebanyakan.

Jika bisa saya ambil pengandaian, dakwah adalah sebagai bahtera, bukan kapal kecil, tetapi bahtera yang sangat besar. Dia lebih besar dari bahteranya Nabi Nuh AS, karena memuat berjuta-juta orang di didalamnya. Meskipun sangat besarnya, bahtera ini ternyata penuh sesak oleh orang yang menumpang. semua lini dari kapal terpenuhi, sehingga tidak ada lagi jalan untuk pindah tempat. Bagi seorang manusia biasa, kesesakan itu membuat kita tidak nyaman, tidak nyaman sama sekali! Bahtera ini sudah berjalan mungkin 3/4, mungkin, 1/2, mungkin baru 1/4 dari tujuan yang dimaksud. tidak ada yang tahu sampai dimana bahtera berjalan. yang bisa di ukur adalah waktu mereka berada di sana.

Ditambah dengan kotoran dimana-dimana. Bahtera sangat amat kotor, karena kesesakan disini membuat orang-orang di dalamnya tidak mementingkan kebersihan, atau terpaksa melakukan hal itu karena tidak ada jalan untuk membuang kotoran tersebut. Pikir kita yang belum kuat di jalan ini, "kotor sekali bahtera ini, aku sudah tidak kuat berada di sini!". Memang ada orang seperti itu, akhirnya mereka keluar dari bahtera itu dengan cara melompat ke arah bawah, yaitu samudera yang sangat luas. Ada juga yang berpikir seperti ini, "Astagfirullah, sungguh sesak dan kotor bahtera ini. Aku harus berbuat sesuatu untuk memperbaikinya". Apa yang terjadi terhadap contoh dua orang tersebut?


Yang meloncat dari kapal, dia sudah mengambil keputusan tersebut. akan tetapi, seberapa kuat kita mencapai daratan yang semula? mungkin beberapa hari saja. Dan akhirnya dia tidak kuat, dia tenggelam dan mati. Atau dia sudah berjalan, tetapi dia bertemu dengan ikan hiu, paus atau sejenisnya yang mengira bahwa pemuda itu adalah mangsanya, pemuda itupun tewas dikoyak-koyak oleh ikan tersebut. sungguh tragis!

Bagaiman dengan pemuda yang bertahan? Pemuda itu mulai membersihkan kotoran disekitarnya,mengajak yang disampingnya itu ikut membersihkan keadaan sekitarnya dan diikuti oleh sekitarnya. Ajakan itu mulai meluas,orang-orang mulai membersihkan, meskipun tidak semua, memperbaiki kapal sehingga terlhiat lebih baik. Pemuda itu pun mulai mengatur barisan dari penumpang-penumpang tersebut. Dia mulai dari sekitarnya, dia bisa mengatur barisan mereka menjadi lebih longgar dari sebelumnya,minimal ada jalan setapak dan bisa membuat dia 'bernapas' dari sebelumnya. Sekali lagi, ajakan itu meluas, sebagian orang mulai memperbaiki barisa mereka, sehingga terlihat lebih baik dan ada pula tidak mempedulikan ajakan tersebut dan tetap setia dengan barisan mereka yang tidak teratur.

Ajakan ini akan terus menggema sampai barisan di bahtera terlihat rapi, memang sangat membutuhkan proses karena mengatur berjuta-juta di sebuah bahtera memang sangat amat sulit, tetapi jangan menyerah dalam memperbaiki bahtera ini. Entah sampai kapan bahtera sampai, mungkin 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, atau mungkin 100 tahun lagi bahtera itu akan sampai tujuan yang kita impikan bersama. tempat ini yang sedang kita tumpangi, BAHTERA DAKWAH.

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Az-Zumar ayat 53).



Penjelasan :
  • Bahtera, karena dakwah ini talah menampung banyak orang yang ingin berkecimpung dalam menyeru kebaikan dan ajaran Islam yang haqiqi.
  • Waktu, karena keberhasilan dakwah ini hanya bisa diukur dengan waktu.
  • Berjuta-juta orang, ini adalah orang yang menyeru di jalan dakwah dengan penuh banyak niat, dengan niatnya masing-masing.
  • Pemuda yang meloncat, inilah orang-orang yang tidak sabar akan pencapaian terbaik dalam dakwah ini. Akhirnya dia meloncat (keluar) dari barisan ini dan tenggelam bersamanya.
  • Kotoran, kotoran dianggap sebagai kelakuan yang dilakukan oleh para pejuang dakwah, yang seringkali membuat orang lain kecewa.
  • Barisan yang tidak teratur, Ini adalah dimana kita menganggap kita yang paling benar sehingga orang-orang tersebut bahwa dialah yang berhak atas dirinya. Banyak orang yang tidak disiplin dalam jalan dakwah ini. Mengambil keputusan sendiri, dan belum tentu keputusan itu benar. 
  • Pemuda yang memperbaiki, Ini adalah orang yang mengerti jalan dakwah ini sangat sulit, tetapi ia sangat mencintai Allah dan RasulNya, sehingga sangat sayang untuk keluar dalam jalan ini dan mencoba untuk memperbaiki hal-hal yang tidak benar dari lingkungan sekitar.

Inspirasi dari cerita kapal dan dakwah dan liqoan kampus

{Perum, 27 Januari 2011}
Dicky Rinaldy

0 buah pikiran: