Selasa, 31 Januari 2012

Muslim dan Masa Depan Kepemimpinan Nasional

Islamedia - Idealnya seorang pemimpin adalah mampu mempunyai kemampuan mempengaruhi. Sebab pengaruh itu, inti kepemimpinan begitu tulis banyak pakar  teori kepemimpinan. Ketika seorang berhasil menciptakan pengaruh maka dia lebih mudah mengarahkan orang lain. Tapi, kritik Anis Matta“ memimpin tidak sama dengan mengendalikan”. Untuk itu, pemimpin berpengaruh menyadur perkataan seorang guru saya ketika masih bersekolah perlu memiliki “kewibawaan”. Tanpa wibawa dia mudah diremehkan bawahannya dan perkataannya dianggap angin lalu.

Indonesia sendiri, banyak pemimpin yang berpengaruh. Mereka memiliki daya pikat besar, karena tiga hal yakni ide (gagasan), orang dan uang. Soekarno dan Soeharto, dibesarkan jiwa kepemimpinan ditopang gagasan besar “revolusi” dan “Pembangunan”. Sepanjang mereka berkuasa, banyak rakyat Indonesia mudah berucap “Bapak Revolusioner Indonesia, ya Bung Karno”. Tak sedikit nyeletuk “ Pak Harto pemimpin yang dirindukan. Harga beras zaman dia berkuasa, murah. Rakyat hidup makmur dengan pembangunan yang dirintisnya. Tapi dia dikutuk juga sebagian kalangan. Mengapa ? Karena KKN zaman dia berkuasa sangat mengakar di tubuh bangsa Indonesia”

Kepemimpinan bicara gagasan selalu berbincang apa yang bisa disampaikan seorang pemimpin kepada khalayak umum (disebut juga konstituen, bawahan atau pengikut). Dan repotnya, seperti nafas gagasan itu sendiri yang mudah menguap. Dewasa ini Indonesia seperti kehilangan pemimpin yang memiliki gagasan besar. Rezim berganti mulai dari Pak Habibie, Mbah Gus Dur, Mbak Mega dan Pak Jenderal SBY. Mereka mendapatkan kesempatan memimpin perahu besar bernama Indonesia. Tapi akar penyakit Indonesia baru tahap ditemukan, belum dapat disembuhkan. KKN masih merajalela, kekerasan masih bermunculan dan trilogi pembangunan (pendidikan, kesehatan dan ekonomi) masih terjebak stagnasi. Artinya, Indonesia butuh kepercayaan diri kembali menumbuhkembangkan pemimpin berfikir besar.

Kedua, orang yaitu bagaimana kemampuan (kompetensi) seorang pemimpin sehingga dia layak dikatakan sebagai pemimpin. Kompetensi berarti dia memiliki kemampuan menciptakan perubahan. Dalam konteks kekinian, Indonesia berada pada kondisi titik nadir menuju negara gagal. Dewan Penasehat KPK, Abdullah Hemahua pernah mengatakan “ Masa depan Indonesia ada tiga. Pertama, Indonesia akan menghilang dari sejarah. Kedua, Indonesia ada dalam sejarah dan negaranya masih berdiri tapi dijajah bangsa lain. Ketiga, Indonesia akan memimpin dunia dan menjadi negara dengan kondisi kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang baik, serta memperoleh ridlo dan ampunan Allah SWT (baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur). Untuk itu, ada kiranya seorang pemimpin wajib memfirasati diri dan masa depan bangsanya. Sehingga mengutip perkataan Ryaas Rasyid “ Seorang pemimpin harus mampu memikirkan Indonesia 103 tahun lalu dan 103 tahun mendatang”. Artinya pemimpin perlu berfikir visioner dan bergerak dengan pemahaman radikal (paham sebuah masalah sampai ke akar-akarnya)

Ketiga, persoalan uang (finansial) yang masih tertutup paradigma sempit. Ketika bicara uang, kita masih banyak terjepit kemiskinan dan kesulitan merumuskan cara memperolehnya. Tidak sedikit dari kita terlupa perkataan Rasulullah SAW sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah usaha.  Satu saja dari keterampilan tangan atau profesional. Sebuah perkataan dashyat yang menegaskan, setiap muslim wajib kaya dan meluangkan waktu untuk berbisnis. Bercermin dari kehidupan Rasulullah SAW, sejak umur sembilan tahun sudah berbisnis “domba”. Ketika umur dua belas tahun mendapatkan pendidikan militer. Menjelang remaja, Allah mencuci hatinya agar tidak mudah terkotori penyakit dunia. Semakin dewasa, umur 20 tahun dia berangkat ke Syam, membawa bisnis Khadijah. Puncaknya, umur dua puluh lima tahun beliau menikahi sang janda, Khadijah ra. Berapa maharnya? Rasulullah memberikan 100 unta merah. Dan pada  usia matang kepemimpinan beliau diberikan kepercayaan memimpin umat Islam yang berhasil dibawanya mencapai puncak kejayaan.

Kepemimpinan Lemah, Mengapa?

Jika mengaca pada sejarah, kepemimpinan Indonesia sering mengalami pasang surut. Pernah suatu ketika Indonesia mencapai puncak kejayaan memimpin Asia Afrika melalui Konferensi Asia Afrika. Sebuah gagasan besar menyatukan kepemimpinan negara besar melawan kekuatan besar dua kutub perpolitikan dunia Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kita juga pernah mengalami masa kejayaan pembangunan ketika Indonesia tahun 1984 mencapai swasembada pangan. Kedua prestasi itu membuktikan, pernah lahir dari rahim wanita Indonesia manusia besar yang mampu membesarkan zamannya. Tapi seiring perjalanan waktu, mengapa kepemimpinan Indonesia sekarang melemah? Tentunya banyak analisis untuk membaca kondisi itu, “Likulli marhatalatin rijaluha, likulli marhataltin thabiatuha (setiap masa ada pemudanya,. Setiap zaman ada selera/tabiatnya)”. Rentang waktu panjang sejarah akhirnya mengajarkan kita kepemimpinan lemah setidaknya karena tiga faktor. 


Pertama, keringnya indoktrinasi ideologis. Pemimpin besar Indonesia, pada umumnya banyak dibesarkan situasi dan kondisi ideologis yang melatarbelakanginya. Soekarno dipengaruhi kehidupan mudanya yang banyak bergelut kelompok komunis (Tan Malaka) dan Islam (Tjokroaminoto) sehingga mempengaruhi cara berfikirnya dan melahirkan gagasan Nasakom (Nasional, agama dan komunis). Soeharto menghadapi kondisi serupa dimana pengaruh ideologisasi militer membesarkan kepemimpinannya. Berbeda dengan generasi kepemimpinan sekarang yang kehilangan sentuhan ideologisasi dari para kepemimpinan sebelumnya. Akibatnya terjadi kegalauan gerakan muda sebagai penerus kepemimpinan. Hanya sedikit, kelompok pemimpin muda sadar nilai-nilai ideologis dalam kepemimpinan serta mau berjuang menegakkan ideologisnya.

Kedua, adanya pegantian zaman yang tidak diimbangi kapasitas perubahan. Kita sekarang memasuki era baru yaitu zaman digitalisasi dan simbolisasi Kehidupan manusia sekarang sulit dilepaskan dari internet sehingga tidak heran seorang pemimpin  dituntut harus mampu memaksimalkan kemampuan media elektronik, media cetak dan jejaring sosial. Kepentingan itu selain lebih efektif juga berdaya jangkau luas. Bahasa simbol juga mulai dimainkan, meski faktanya kadang masih tercipta kesenjangan. Simbolisasi sebenarnya hanya sebuah model efektif menggalang opini publik. Ironisnya, kadang simbolisasi tidak sama dengan kenyataan sehingga banyak yang mengatakan sebatas jargon kosong. Tapi perlu dipahami, kemajuan zaman itu hanya sebuah sarana bukan tujuan akhir. Selain itu, harus ada kesadaran personal seorang pemimpin sebab adanya pergantian zaman melahirkan konsekuensi semakin besar tuntutan untuk merubah kondisi buruk dengan gagasan baru. Pada titik ini, seorang pemimpin harus mampu terus merevolusi diri dan orang yang dipimpinnya dengan berbagai macam kapasitas atau kompetensi agar tidak semakin terlindas zaman.

Ketiga Indonesia kehilangan pemimpin yang mampu menciptakan inovasi yang bersifat konstruktif, mengakar di masyarakat dan kredibel secara kapasitas akademik. Banyak perubahan dihasilkan melalui proses kebijakan instan dan tidak teruji secara akademik. Pengambil dan perumusan kebijakan lebih berjalan pada kepentingan politik dan ekonomi. Dampaknya sangat luas dimana terjadi stagnasi dan kemalasan membuat perubahan baru melawan mainstream yang ada. Ketika pun tercipta perubahan, bersifat kontemporer dan tidak bertahan lama eksistenisnya. Jadilah, para pemimpin perubahan amat dirindukan rakyat meski kadang mereka lebih banyak tersingkirkan oleh berbagai kejahatan politisasi dan intrik-intrik negara. 

Muslim Harus Memimpin

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sebuah kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad: 11). 
Ayat ini dengan jelas menuntut segala potensi yang kita miliki untuk melakukan perubahan, jika kita telah bergerak maka Allah pun akan membantu perubahan itu. Kepemimpinan adalah bagian strategis melakukan perubahan. Dan jika merujuk pada ayat ini: “… dan jika kamu berpaling, Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini).” (QS. Muhammad: 38) kepemimpinan itu selalu dipergilirkan.

Dan kualitas kepemimpinan itu sangat tergantung pada kualitas keimanan dan keshalihan kita sendiri, apakah kita adalah generasi yang akan menggantikan masyarakat sebelumnya ataukah justru kita yang digantikan Allah. Hal ini semua ditimbang dalam sebuah ketentuan dan batas-batas bahwa, pergantian itu terjadi jika kita dan masyarakat kita berpaling dari Allah.

Sekarang Indonesia dilanda krisis kepemimpinan, banyak mayoritas umat Islam bagaikan buih di lautan. Mereka banyak menghuni parlemen, tapi sering gagal mengendalikan arus kebijakan untuk kepentingan masyarakat luas. Mengapa itu terjadi? Al –Qur’an menegaskan untuk melahirkan kepemimpinan butuh keberanian dan keshalihan. Dengarlah janji Allah dalam surat cinta-nya yang agung :

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur: 55)

Inggar Saputra

Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI)

0 buah pikiran: